Kisah 2 Orang yang Dijatuhi Hukuman Pidana Penista Agama

Penistaan agama merupakan hal yang terlarang di Indonesia. Ini karena Pancasila memiliki sila Pertama yang menyatakan KeTuhanan Yang Maha Esa. Mahkamah Konstitusi dalam putusan sidang uji materi UU Penodaan Agama No 1/PNPS/1965  telah menegaskan bahwa RI bukanlah negara sekuler. Lebih lanjut, Mahkamah Konstitusi telah memutuskan bahwa UU Penodaan Agama No 1/PNPS/1965 yang menjadi dasar bagi pidana penistaan agama tetap berlaku.

Kasus pidana penistaan agama bukanlah hal baru di Indonesia. Kasus tersebut juga bukan selalu menimpa pemeluk agama Islam.  Berikut ini kami tampilkan dua kisah orang yang dijatuhi hukuman pidana penista agama.

1. Rusgiani

Kasus bermula saat Rusgiani lewat di depan rumah Ni Ketut Surati di Gang Tresna Asih, Jalan Puri Gadung II, Jimbaran, Badung, pada 25 Agustus 2012. Saat melintas, dia menyatakan canang di depan rumah Ni Ketut najis. Canang adalah tempat sesaji untuk upacara agama Hindu.

Menurut Rusgiani, dia menyampaikan hal itu karena menurut keyakinannya yaitu agama Kristen, Tuhan tidak butuh persembahan. Rusgiani mengaku mengeluarkan pernyataan itu spontan dan disampaikan di hadapan tiga orang temannya. Ia mengaku “Tidak ada maksud menghina atau pun menodai ajaran agama Hindu”.

Atas perkataannya itu, Rusgiani dilaporkan ke polisi setempat. Majelis hakim menyatakan Rusgiani telah terbukti secara sah dan meyakinkan melakukan tindak pidana dengan sengaja mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan agama yang dianut di Indonesia. Perkataan Rusgiani dapat mengganggu kerukunan umat beragama dan telah menodai agama Hindu. Ia dijatuhi hukuman 1 tahun dan 2 bulan penjara.

(http://news.detik.com/berita/2400764/hina-agama-hindu-ibu-rumah-tangga-di-bali-dibui-14-bulan )

2. Arswendo Atmowiloto

Kasus bermula saat ia mengadakan “pooling” atau survei di tabloid Monitor yang dipimpinnya. Hasil dari survey itu adalah menempatkan antara lain Presiden kala itu, Soeharto, di urutan pertama, sedangkan Nabi Muhammad berada di urutan kesebelas. Hasil tersebut memicu kontroversi dan sejumlah aksi.

Ia menegaskan, sama sekali tidak ada niat untuk menodai atau menistakan agama tertentu terkait dengan survey tersebut. Arswendo pada saat itu bahkan telah meminta maaf baik melalui media cetak dan media elektronik dan Monitor juga telah menuliskan permintaan maaf yang memenuhi halaman pertama dari tabloid tersebut.

Arswendo dijerat dengan pasal-pasal KUHP terkait penodaan agama dan divonis dengan hukuman lima tahun penjara. Sedangkan pada saat banding di Pengadilan Tinggi dan Mahkamah Agung, Arswendo akhirnya dijatuhi hukuman 4 tahun 6 bulan penjara.

(http://www.antaranews.com/berita/173333/arswendo-atmowiloto-menyesal-lukai-umat )

Arswendo & Rusgiani memiliki suatu kesamaan. Mereka mengaku sama sekali tidak bermaksud menodai agama tertentu. Apa yang mereka lakukan bersifat spontan atau tidak disengaja untuk menjatuhkan agama tertentu. Bahkan Arswendo secara luas mengumumkan permintaan maafnya. Akan tetapi, mereka dikenai vonis hukuman penjara.

Padahal mereka bukan pejabat publik yang melakukan perbuatan tersebut saat sedang menjalankan tugas dan menggunakan seragam dinas. Sementara pejabat publik memiliki kewajiban untuk menjaga etika & teladan agar tercipta keharmonisan antar umat beragama (EI).